Di akhir bulan Oktober lalu, saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti penguatan virtual coordinator indonesia yang diadakan di Lembang selama 3 hari yaitu mulai tanggal 28 Oktober ssampai 30 Oktober 2019. Di dalam pelatihan ini, banyak sekali materi yang disampaikan, waktu yang sangat sempit menjadi sangat berarti. Di dalam pelatihan ini diberikan lagi materi-materi yang pernah disampaikan saat menjadi peserta VCI tetapi dengan beberapa penambahan.
Sebuah kesempatan yang sangat berharga, dimana saya berkumpul bersama dengan 74 peserta lainnya dari berbagai kota dan kabupaten di Jawa Barat. Melalui postingan ini saya akan mengirimkan review buku dari blog www.rumahbelajar.id. Sebuah review yang lebih terperinci karena dibuat storyline atau alur cerita terlebih dahulu. Review bisa dilihat di link berikut ini
Storyline yang saya buat bisa dilihat di gambar di bawah ini :
Betapa banyak ilmu yang saya peroleh melalui pelatihan ini, semoga saya bisa mengamalkannya dengan baik. Terima kasih kepada semua instruktur yang telah memberikan semua ilmu, jazakillah khairan katsira
Senin, 04 November 2019
Minggu, 08 September 2019
Menjadi Guru yang Siap Menghadapi Revolusi 4.0
![]() |
| Diambil dari www.liputan6.com |
Adakah teman-teman yang membaca blog ini berprofesi sebagai pendidik? Jika ada, sudah siapkah menghadapi revolusi Industri 4.0 yang sudah di depan mata. Jika belum siap, teman-teman wajib ikutan pelatihan yang satu ini nih, namanya Virtual Coordinator Indonesia (VCI) yang diadakan hanya dalam satu bulan dengan berbagai tugas yang menantang. Tenang aja ya jangan mundur sebelum berjuang, pelatihan ini akan mempertemukan para pendidik dari beberapa kota dalam satu grup. Jadi selain dapat ilmu, bonusnya bisa bersilaturahmi dengan tenaga pendidik yang berasal dari kota lain.
Saya sendiri karena tinggal di Kabupaten Cianjur, tergabung di Grup 6 Jabar yang terdiri dari tenaga pendidik dari Kabupaten Cianjur, Kabupaten Bandung Barat dan Cimahi. Dari Kelompok 6 ini kemudian dibagi menjadi 5 kelompok kecil untuk mempermudah penugasan. Setiap kelompok kecil terdiri dari 38 orang peserta. Pelatihan ini dilakukan secara online jadi banyak diantara kami yang belum pernah bertatap muka sama sekali. Bekerja sama dengan orang yang belum dikenal menjadi tantangan tersendiri.
Tulisan ini adalah salah satu tugas yang harus saya tuntaskan dalam pelatihan ini, yaitu review dua buku yang diambil dari website www.rumahbelajar.id. Sebuah review yang berbeda karena bukan menampilkan dalam bentuk tulisan tetapi menggunakan aplikasi yang merubah suara menjadi tulisan (Voice to text) dan aplikasi yang merubah tulisan menjadi suara (Text to voice). Dua aplikasi ini juga merupakan materi yang disampaikan di pelatihan ini, sebagai salah satu kemampuan yang harus dimiliki pendidik menghadapi revolusi 4.0. Selain itu review bukunya direkam dan diunggah ke akun Youtube milik saya.
1. Review Buku Jamu Gendong Solusi Sehat Tanpa Obat
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Pada kesempatan ini saya akan membuat review buku yang berjudul "Jamu Gendong Solusi Sehat Tanpa Obat yang diambil dari website www.rumahbelajar.id. Buku ini ditulis oleh Sukini, disunting oleh Dwi Agus Ernita, Illustrator oleh Dawud Achroni, penata letak oleh Dawud Achroni, diterbitkan tahun 2018 oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Buku ini ditujukan untuk siswa SMK berisi tentang sejarah jamu gendong filosofi jamu gendong berbagai macam jenis jamu gendong bahan dan alat yang bisa digunakan untuk membuat jamu jamu gendong dan bagaimana proses pembuatannya. Sebuah buku yang sangat lengkap yang setelah membacanya saya yakin semua orang mampu membuatnya.
Dari segi sejarah, jamu gendong adalah warisan budaya Indonesia semenjak Kerajaan Majapahit. Dahulu kala jamu-jamu ini hanya disajikan untuk keluarga Kerajaan saat acara-acara khusus tetapi saat ini sudah jamak digunakan oleh banyak orang. Di buku ini dibahas bahwa jamu itu yang sering digunakan ada 8 jenis yaitu kunyit asam, beras kencur, cabe puyang, pahitan, kunci suruh, kudu Laos, uyup-uyup atau gepyokan dan Sinom.
Masing-masing jenis jamu ini memiliki filosofi yang sangat luar biasa, urutan dari yang pertama sampai yang terakhir itu adalah manis asam sedikit pedas, sangat pedas, pahit-tawar hingga manis kembali. Hal ini melambangkan siklus kehidupan manusia karena tentunya di dalam kehidupan manusia itu beragam cerita mulai dari cerita bahagia cerita duka cerita bahagia lagi duka lagi dan ditutup dengan bahagia.
salah satu filosofi yang lainnya adalah kunyit asam kunyit asam ini adalah Simbol kehidupan pada saat bayi hingga pra remaja memiliki rasa yang manis dan asam lalu yang kedua Cabe puyang yang ini rasanya adalah pedas manis melambangkan kehidupan manusia di usia 19 sampai dengan 21 tahun yang mulai labil. Proses pembuatan jamu gendong ini sangat mudah menggunakan bahan-bahan yang ada disekitar kita dari herbal yang bisa kita tanam atau beli di pasar tradisional, alat-alatnya pun sangat mudah bisa menggunakan ulekan ataupun blender yang tentunya semua rumah tangga memilikinya. Buku ini sangat bermanfaat untuk dibaca oleh siapapun disajikan dalam bahasa yang sangat ringan sehingga sangat mudah dipahami Sekian dari saya, terima kasih
Untuk video review bisa dilihat di link berikut ini sedangkan untuk review buku secara keseluruhan bisa membuka link berikut ini Review Buku Jamu Gendong Solusi Sehat Tanpa Obat
2. Review Buku Berguru Kepada Anak Laut Suku Bajo
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Pada kesempatan ini, saya akan mereview sebuah buku yang diambil dari website www.rumah belajar.id sebuah website yang digagas oleh pemerintah melalui Kementerian Pendidikan untuk membantu meningkatkan kemampuan literasi masyarakat dalam menyongsong era Revolusi 4.0. Buku ini berjudul "Berguru kepada Anak Laut Suku Bajo yang ditulis oleh Mustika Desi Harjani, disunting oleh Dwi Agus Ernita, ilustrator dibuat oleh M Dzikri Asy-syahid, Indra Meza Permana dan Wawan Taro. Diterbitkan tahun 2018 oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Jumlah halamannya adalah 64 halaman. Buku ini ditujukan untuk anak tingkat SD kelas 1 2 dan 3, sesuai dengan target pembaca nya buku ini disajikan dengan ilustrasi yang sangat baik dan lebih mengedepankan gambar dibandingkan dengan tulisan.
Narasi yang disajikan di buku ini dituliskan dalam bahasa yang sangat singkat padat dan jelas sesuai dengan target pembacanya, buku ini juga dilengkapi dengan glosarium yang akan menjelaskan istilah-istilah asing yang ada di buku ini. Sebuah buku yang patut dibaca, buku ini juga bisa dijadikan alat bantu pada saat orang tua ataupun guru mendongeng kepada anak sebagai proses belajar literasi semenjak dini.
Buku ini menceritakan persahabatan antara Kaloko yaitu seorang anak yang berasal dari Pulau Jawa yang sedang berwisata ke Labuan Bajo. Persahabatan Kaloko dengan anak asli suku Labuan Bajo yang bernama Jirin. Keduanya bertemu di suatu pagi yang cerah, saat itu Jirin mengajak Kaloko untuk berenang karena menurutnya air adalah teman, Tttapi Kaloko yang memang belum mampu berenang merasa takut. Ayahnya yang saat itu sedang berada disana berusaha meyakinkan Kaloko bahwa berenang adalah sebuah kegiatan yang sangat menyenangkan dan harus dikuasai oleh anak Indonesia karena negara kita adalah negara perairan yang dua pertiga wilayahnya adalah kepulauan.
Setelah diskusi dengan ayahnya dan sejenak berpikir akhirnya Kaloko bersedia mengikuti saran Ayah untuk belajar berenang dan berteman dengan air seperti Jirin. Awalnya dia takut tetapi berusaha memberanikan diri terjun ke air dan hal ini tentu saja membuat Jirin senang karena kawan barunya mau belajar berenang, saat itu Kaloko masih menggunakan pelampung di lengannya karena memang tak bisa mengambang di air, alat ini akan membantu badan Kaloko mengapung.
Buku yang sangat menarik loh, teman-teman bisa membaca review lengkapnya disini atau melihat rekaman videonya melalui Review Buku Berguru Kepada Anak Laut Suku Bajo dan melalui link ini.
Sekian penugasan pada kesempatan kali ini, sampai jumpa di kesempatan penugasan lainnya. Salam!!!
Minggu, 01 September 2019
Review Buku : Jamu Gendong Solusi Sehat Tanpa Obat
Judul buku : JAMU GENDONG SOLUSI SEHAT TANPA OBAT
Penulis : Sukini
Penyunting : Dwi Agus Erinita
Ilustrator : Dawud Achroni
Penata Letak : Dawud Achroni
Penerbit : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa tahun 2018
No. ISBN : ISBN 978-602-437-525-6
Pernahkah mencicipi jamu gendong? Jamu jenis apa yang pernah dicicipi? Sejauh ini saya hanya mengenal jamu "Kunyit asam" dan "Beras kencur". Kalau belum pernah merasakan, anda rugi loh. Jamu gendong adalah warisan budaya Indonesia yang berharga dan telah dikonsumsi semenjak ratusan tahun silam. Jamu berasal dari bahasa Jawa Kuno yaitu jampi atau usodo, penyembuhan menggunakan ramuan obat-obatan atau doa-doa (halaman 8) atau secara sederhana, jamu adalah obat herbal dari Indonesia yang dibuat dari bahan alami berupa berbagai bagian tumbuhan misal : rimpang, daun, batang, bunga dan kulit batang (halaman 2). Jamu tersedia dalam berbagai jenis, yaitu jamu berbentuk cairan yang dibuat segar dan langsung dijajakan kepada konsumen, dikenal dengan istilah jamu gendong dan ada juga yang berbentuk serbuk, tablet, kaplet dan kapsul yang umumnya dibuat oleh industri.
Jamu gendong biasanya dikemas dalam wadah botol-botol besar lalu disusun dalam bakul dan bakul ini digendong. Tahun 1980an adalah masa keemasan jamu gendong ini karena sangat mudah menemukannya di berbagai daerah, seiring dengan perkembangan teknologi, penjual jamu gendong mulai mengalami penurunan, bahkan saat ini di daerah tempat tinggal saya hanya terseisa tiga orang saja. Beberapa ada yang sudah memodifikasi cara berjualannya yaitu dengan menggunakan motor agar lebih banyak area yang bisa ditempuh. Banyak filiosofi dalam jamu gendong ini, salah satunya adalah alasan menjual jamu ini digendong selayaknya seorang ibu membawa bayinya dalam gendongan yang bermakna bahwa para penjual jamu gendong membawa dagangan seperti membawa anaknya sendiri. (halaman 4).Meracik dan meminum jamu dipercaya sudah menjadi budaya pada masa kerajaan Hindu dan Budha, hal ini didasarkan dari ditemukannya relief di Candi Borrobudur, Prabanan, Penataran,
Sukuh dan Tegalwangi yang menggambarkan pembuatan dan pembuatan jamu. Bukti sejarah lainnya adalah dengan ditemukannya prasasti Madhawapura yang merupakan peninggalan kerajaan Majapahit. Selain itu ada juga bukti tertulis penggunaan jamu di Serat Centhini (1814 M) dan Kawruh Bab Jami-Jampi Jawi (1858 M). Buku Kwaruh lah yang memuat informasi yang paling sistematis tentang jamu (halaman 7)

Pada jaman Majapahit, jamu menjadi minuman kebesaran Raja dan keluarga saat upacara-upacara kerajaan, ada delapan jenis jamu yang biasa diminum, yang melambangkan delapan arah mata angin sekaligus lambang Surya Majapahit. Berikut ini jenis jamu tersebut, yaitu :
1. Kunyit asam
2. Beras kencur
3. Cabe puyang,
4. Pahitan
5. Kunci suruh
6. Kudu laos
7. Uyup-uyup atau gepyokan dan 8. Sinom
Masing-masing jenis jamu ini memiliki filosofi yang luar biasa, misal : Urutan rasa dari kedelapan jamu ini adalah manis-asam, sedikit pedas-hangat, pedas, pahit, tawar hingga manis kembali, hal ini untuk melambangan siklus kehidupan manusia. Contoh filosofi lainnya adalah Kunyit asam memiliki rasa manis asam yang merupakan simbol dari kehidupan yang terasa manis ketika bayi hingga praremaja. lalu lain halnya dengan Cabe puyang yang memiliki rasa pedas-manis, yang melambangkan kehidupan manusia di usia 19-21 tahun yang mulai labil.(halaman 38)
Berbagai bahan yang biasa digunakan membuat jamu digambarkan di buku ini dengan lengkap, meliputi nama, nama latin, gambar, bentuk tanaman, budidaya dan manfaat. Bahan yang ada di buku ini adalah Kunyit, Kedawung, Kayu manis, Jahe, Kapulaga, Temulawak, Adas, Sirih, Cabai Jawa, Brotowali, Asam Jawa, Daun Pepaya, Beras, Garam, Gula kelapa dan Gula batu. Buku ini juga dilengkapi dengan alat-alat yang biasa digunakan yaitu lumpang dan alu, batu pipisam dam gandik, panci, saringan, kain katun, blender, cobek dan ulekan, talenan, pisau sera sendok sayur. Semua alat yang digunakan dicantumkan gambar dan fungsinya.
Bagian terakhir dari buku ini adalah berjudul Macam-macam Jamu gendong dan manfaatnya yang di dalamnya membahas alat-bahan dan cara pembuatan jenis-jenis jamu yang delapan jenis di atas.Setelah tuntas membaca buku ini, pembaca langsung bisa praktek membuatnya di rumah karena bahan dan alat-alat yang digunakan mudah ditemui di sekitar kita.
Menurut saya, buku ini sangat lengkap dan disajikan dalam bahasa yang mudah dipahami sangat sesuai dengan target pembacanya yaitu Anak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP). Setelah membaca buku ini, saya mendapatkan gambaran utuh tentang jamu gendong mulai dari sejarahnya, filosofisnya, jenis-jenis jamu gendong, alat, bahan dan cara membuatnya. Sebuah buku yang layak dibaca oleh masyarakat luas mengingat jamu ini adalah warisan tradisi asli Indonesia yang sudah sepatutnya kita lestarikan. Di dalam pengobatan mandiri (swamedikasi) untuk mengobati gejala penyakit ringan atau untuk meningkatkan stamina, jamu patut dicoba mengingat bahan-bahan yang digunakan adalah bahan alami yang ada di sekitar kita. Namun hal lain yang harus diingat bahwa ketika keluhan tidak berkurang sebaiknya segera berkonsultasi kepada tenaga medis terdekat. Buku ini tersedia dalam bentuk digital, bisa diunduh secara gratis melalui link ini http://rumahbelajar.id/JamuGendungSolusiSehatTanpaObat. Selamat mencoba !
Senin, 26 Agustus 2019
Review Buku : Berguru kepada Anak Laut Suku Bajo
Judul : Berguru kepada Anak Laut Suku Bajo
Penulis : Mustika Desi Harjani
Penyunting : Dwi Agus Erinita
Ilustrator : M. Dzikri Asy-Syahiid, Indra Mezapermana dan Wawan Taro
Penata Letak : Indra Mezapermana dan Wawan Taro
Diterbitkan pada tahun 2018 oleh
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Jumlah halaman : vi + 64
Buku ini menceritakan persahabatan antara Kaloko yaitu seorang anak yang berasal dari pulau Jawa sedang berwisata ke Labuan bajo dan Jirin, anak asli suku Labuan Bajo. Keduanya bertemu di pagi hari kedua Kaloko berada di Labuan Bajo. Awalnya Jirin mengajak Kaloko untuk berenang, karena menurutnya "air adalah teman" tetapi Kaloko merasa takut dan ayahnya meyakinkan bahwa berenang adalah kegiatan yang menyenangkan dan harus dikuasai oleh anak Indonesia karena negara kita adalah negara perairan yang dua per tiga wilayahnya adalah kepulauan (halaman 13).
Setelah diskusi dengan Ayahnya dan sejenak berpikir, akhirnya Kaloko bersedia mengikuti saran Ayah untuk belajar berenang dan berteman dengan air seperti Jirin. Meskipun gugup, Kaloko memberanikan diri terjun ke air dan tentu saja Jirin senang melihat kawan barunya mau turut berenang. Kaloko masih menggunakan pelampung dilengannya karena masih belum bisa mengambang di air, pelampung ini yang membantu badan Kaloko mengapung. Kaloko berpikir tidak mungkin selamanya menggunakan alat ini, maka perlahan Jirin mengajarkan Kaloko bagaimana berenang yang baik mulai dari menahan nafas dan teknik menggerakkan kaki. Jirin sangat sabar mengajari Kaloko dan meyakinkan bahwa tidak ada hal yang tidak mungkin apabila tidak dicoba (halaman 23)
Kaloko perlahan mempraktekkan teknik-teknik yang sudah diajarkan Jirin, tiba-tiba Jirin meninggalkan Kaloko dan dia pun mengejarnya, saat itulah nampak pemandangan bawah laut yang indah yaitu air laut yang jernih, warnanya biru langit dan semua isi laut terlihat jelas berupa ikan-ikan kecil karang dan pasir yang berkilauan (halaman 26)
Pelajaran masih berlanjut yaitu mengambil ikan dengan tombak, salah satu keahlian suku Bajo yang terbiasa menyelam untuk mengambil ikan di laut. Keahlian ini dikuasai mulai anak kecil sampai orang dewasa yang kadang bisa menyelam sampai puluhan meter di bawah laut tanpa alat bantu pernafasan. Keahlian ini juga membuah Kaloko terpana lalu membuatnya ingin ikut melaut dengan keluarga Jirin. Ikan hasil tangkapan pun dibawa pulang untuk dimasak oleh ibu Jirin dan cerita berakhir dengan pulangnya ayah Jirin dari laut dan kedua keluarga menyantap ikan cakalang dan makanan lain bersama-sama.
Buku ini ditujukan untuk anak kelas 1,2 dan 3 sekolah dasar. Sebuah buku yang ilustrasinya apik, mulai dari halaman pertama, saya dibuat tertegun dengan ilustrasi yang indah. Sebuah gambar rumah-rumah terapung di pantai yang tenang, membuat saya semakin merindukan pantai. Sesuai dengan target pembacanya, buku ini disajikan dengan bahasa yang singkat dan mudah dipahami.

Diskusi-diskusi yang terjadi disampaikan dengan bahasa anak-anak misalnya : “Ambil nafas di atas air. Lalu tahan dan masukkan kepala Kaloko ke dalam air. Di dalam air, Kaloko boleh membuang udara lewat mulut sedikit demi sedikit” (halaman 23). Dengan ilustrasi yang sederhana, anak-anak bisa langsung mengikuti langkah-langkah ini. Selain itu, buku ini mengenalkan berbagai macam ekspresi kepada anak-anak, mulai dari ekspresi bahagia, bingung, sedih, berpikir, takut sampai dengan terkejut semua ada disini.
Selanjutnya melalui buku ini, anak-anak juga mempelajari adanya perbedaan budaya di Indonesia mulai dari bagaimana bentuk rumah di Jawa dan di Bajo, bagaimana budaya di kedua tempat termasuk hal-hal kecil seperti mengayun bayi, di Jawa bayi diayunkan menggunakan ayunan sedangkan di Bajo menggunakan ombak. Melalui buku ini juga anak-anak menjadi tahu bagaimana pekerjaan seorang nelayan yang mengarungi lautan dalam waktu yang panjang. Buku ini disertai dengan "Glosarium" untuk menjelaskan istilah-istilah yang baru dikenal oleh anak-anak.
Bagi saya ada satu hal yang menarik dari buku ini yaitu ilustrasi buku ini dibuat oleh seorang remaja berusia 19 tahun yang menyelesaikan pendidikannya melalui homescholling, sebuah alternatif pendidikan yang sedang banyak dikaji saat ini. Buku ini sangat layak untuk dibaca dan sebaiknya orangtua mendampingi atau membacakannya sebagai salah satu proses lliterasi di keluarga.
Tertarik membaca buku ini? caranya sangat mudah yaitu buka laman www.rumahbelajar.id, sebuah website pembelajaran yang dibuat oleh Direktoran pendidikan dalam rangka menghadapai revolusi 4.0 yang sudah di depan mata. Untuk mengunduh buku ini, cukup klik tautan berikut ini : http://rumahbelajar.id/BergurukepadaAnakLautSukuBajo. Selamat membaca
Minggu, 19 Mei 2019
Tips Menabung THR untuk Pengusaha
Siapa yang tidak bahagia denger kata "THR"?
Hayooo ngaku
Hmm
Rasanya mayoritas bahagia yaa mendengar kata THR apalagi mendapat bukti fisik THR berupa uang dan barang-barang yang dibutuhkan untuk lebaran. Semasa masih bekerja di perusahaan, setiap memasuki bulan Ramdhan selalu lebih bersemangat karena akan mendapat THR. Sejak awal bulan sudah merencakan uang tersebut akan digunakan untuk apa saja. Bahagia bertambah ketika uangnya sudah masuk ke rekening.
Setelah resign dan menjadi pengusaha ala-ala, ketika mendengar kata THR berubah menjadi yang ketar . Yupp pengusaha bisa mendadak migren dua bulan menjelang lebaran karena memikirkan pengadaan dana untuk membayar THR para karyawan. Begitu sadar langsung tertohok dan memutar otak bagaimana caranya menyiapkan dana THR untuk semua karyawan dalam waktu dua bulan, padahal biasanya bulan Ramadhan omset penjualan obat menurun karena jam buka apotek yang lebih singkat. Untungnya jumlah karyawan saya yang tetap hanya dua orang dan sisanya adalah karyawan insidental. Mungkin kalo punya karyawan lebih dari 5 orang, persiapan THR harus dari 6 bulan sebelumnya.
Dalam perenungan itu, saya teringat wejangan mamah bahwa pengusaha itu kalo mau punya sesuatu ya harus bisa menabung penghasilannya secara konsisten. Dengan cara ini gakkan berasa berat karena sudah dicicil per hari. Saya pun langsung menghitung berapa jumlah THR yang harus diberikan dan dibagi dengan jumlah hari yang tersisa. Hasil pembagian itu keluarlah jumlah yang harus ditabung setiap hari. Kebutuhan THR saya adalah 3 juta dibagi dengan jumlah hari yaitu 50 maka setiap hari saya harus menabung 60.000 dan dibagi lagi menjadi dua shift maka setiap shift harus menabung 30.000.
Dari hasil hitungan di atas berasa ringan kan, gakkan berasa lah menyisihkan uang sejumlah 30.000 dari setiap shift, bayangkan kalo harus menyiapkan uang 3 juta dalam waktu singkat, duh saya bisa mode senggol bacok dan senewen mulu. Setelah dihitung langsung dong dieksekusi, saya langsung menyiapkan toples untuk menyimpan uang dan diinfomasikan ke semua karyawan tentang kebijakan ini.
Secara regulasi, peraturan tentang THR ada di Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.PER-04/MEN/1994
TENTANG
TUNJANGAN HARI RAYA KEAGAMAAN
BAGI PEKERJA DIPERUSAHAAN. Dalam peraturan ini sudah dibahas dengan gamblang bagaimana teknis pemberian THR, kriteria karyawan seperti apa yang mendapatkan THR, berapa besarannya dan kapan tenggat pemberiannya. Inginnya saya bisa sesuai dengan peraturan ini, maksimal H-7 lebaran uang THR sudah diterima oleh karyawan.
Ramadhan sudah hari ke 14, masih ada waktu seminggu lagi untuk mempersiapkan THR untuk para karyawan, semoga Allah selalu memudahkan semua langkah kita untuk memenuhi hak-hak orang lain yang sudah berjasa mendampingi kita membangun usaha ini. Semoga para karyawan diberikan kesabaran menanti cairnya THR ini
Rabu, 08 Mei 2019
Yuk Bikin Choco-Skippy Banana Stick !!
Di awal bulan Ramadhan umumnya sekolah yang ada di Indonesia meliburkan muridnya selama seminggu agar mereka beradaptasi dengan ibadah puasa karena tentunya tidak mudah menahan lapar untuk anak-anak terutama usia sekolah dasar. Beberapa sahabat saya mulai mengenalkan puasa semenjak anak usia 5 tahun dengan puasa bertahap yaitu buka puasa beberapa kali, tahap pertama sahur sampai jam 10 lalu dilanjut jam 10 sampai jam 2 dan terakhir jam 2 sampai adzan maghrib. Lama-lama anak menjadi terbiasa dan waktu puasa bertambah. Untuk anak-anak yang mulai puasa penuh dari subuh sampai dengan maghrib, hari-hari pertama menjadi tantangan tersendiri, butuh trik agar puasanya bisa tuntas mulai dari menyediakan menu sahur makanan kesukaannya, menyediakan berbagai macam permainan dan menu berbuka puasa yang menarik.
Siang hari sampai dengan Ashar adalah salah satu waktu kritis anak-anak merengek meminta buka puasa karena mulai lapar, salah satu kegiatan yang ampuh untuk mengalihkan perhatiannya adalah diajak membuat menu buka puasa kesukannya atau menu buka puasa baru yang menarik dan sehat. Menu yang dibuat, pilih yang gampang aja. Momen ini juga bisa dimanfaatkan jadi kegiatan belajar loh misal mengenal berbagai warna dan berhitung.
Salah satu menu buka shaum yang sehat, menarik dan gampang dibuat adalah Choco-Skippy Banana Stick, dari namanya udah kebayang kelezatan gabungan skippy dan coklat dan ditambah pisang......hmm dijamin anak-anak suka. Bahan yang dibutuhkan gampang dicari bisa dan cara bikinnya gampang banget.
Bahan yang dibutuhkan :
100 gram SKippy
100 gram coklat batang
6 Pisang ambon ukuran sedang
Meises dan sprinkel secukupnya
Alat yang dbutuhkan :
Stik es warna - warni
Siang hari sampai dengan Ashar adalah salah satu waktu kritis anak-anak merengek meminta buka puasa karena mulai lapar, salah satu kegiatan yang ampuh untuk mengalihkan perhatiannya adalah diajak membuat menu buka puasa kesukannya atau menu buka puasa baru yang menarik dan sehat. Menu yang dibuat, pilih yang gampang aja. Momen ini juga bisa dimanfaatkan jadi kegiatan belajar loh misal mengenal berbagai warna dan berhitung.
Salah satu menu buka shaum yang sehat, menarik dan gampang dibuat adalah Choco-Skippy Banana Stick, dari namanya udah kebayang kelezatan gabungan skippy dan coklat dan ditambah pisang......hmm dijamin anak-anak suka. Bahan yang dibutuhkan gampang dicari bisa dan cara bikinnya gampang banget.
Bahan yang dibutuhkan :
100 gram SKippy
100 gram coklat batang
6 Pisang ambon ukuran sedang
Meises dan sprinkel secukupnya
Alat yang dbutuhkan :
Stik es warna - warni
Cara bikinnya :
1. Potong coklat batang jadi ukuran yang lebih kecil, masukkan ke mangkok stainless atau rantang, kemudian panaskan di panci yang sudah berisi air (kalo bahasa Farmasinya ditangas, kalo bahasa emak2 ditim)
2. Aduk perlahan sampai coklat meleleh sebagian, air di panci tidak boleh masuk ke dalam wadah coklat karena adanya air akan membuat coklat tidak membeku. Kemudian angkat wadah coklat dan aduk sampai coklat meleleh sempurna.
3. Tambahkan Skippy dan aduk sampai tercampur rata.
4. Buka kulit pisang, potong pisang menjadi dua bagian sama besar dan pasangkan stik di bagian bawah.
5. Lumuri pisang dengan adonan coklat dan skippy yang sudah rata
6. Taburi dengan meieses atau springkel dan simpan di freezer.
![]() |
| Tahap 1 - 3 |
![]() |
| Tahap 5 : Taburan Meises |
![]() |
| Tahap 5 : Taburan Sprinkel |
Selasa, 07 Mei 2019
Tongkol Bumbu Merah sang Penggugah Selera Buka Puasa
Helooo
Setelah dua tahun lebih blog ini tak terjamah, Ramadhan tahun ini akan menjadi titik balik saya bercerita disini.
Terakhir posting disini bulan Januari 2017, saat itu sedang inisiasi Kelas inspirasi mulai dari pembentukan panitia lalu mengurus perijinan, rapat, audiensi dan puncaknya kegiatan ini berlangsung bulan September 2017.
Gak cuma itu aja sih, di tahun 2017 akhirnya saya melepas masa lajang, hanya selang seminggu setelah Kelas Inspirasi saya resmi punya buku nikah. Persiapan dua kegiatan inilah yang menyita hati dan pikiran sampai gak sempet nulis.
Laah nikah 2017 trus kok bablas gak ngeblog sampai 2 tahun? Hhmm jawabannya karena sangat menikmati peran baru jadi emak2.
Naaah setelah semua pekerjaan terkendali dengan baik, saatnya explore kebiasaan lama termasuk nulis di blog dan ada iming2 lain juga, bisa dapet hosting gratis kalo minimal ada 10 tulisan. Maklum dasarnya demen yg mepet2 baiklah kita kejar 5 postingan dalam 3 hari.....the power of kepepettt....
Nah kebutuhan menulis ini kebantu dengan adanya tantangan di Blogger perempuan untuk menulis selama 30 hari dengan tema yang sudah disediakan.
Tema hari pertama ada tiga pilihan yaitu Buka puasa, ngabuburit dan buka bersama. Saya milih tema buka puasa aja deh karena gak ngabuburit dan buka bersama cuma berdua dengan suami.
Ramadan kali ini adalah tahun kedua bareng suami, karena kita long distance marriage (ldm) jadi tahun lalu hanya 10 hari kita bisa bareng-bareng. Ngarep banget Ramadhan tahun ini lebih banyak waktu barengnya daan Alhamdulillah langsung diijabah oleh Allah, sahur pertama dan buka pertama bisa barengan.
Karena ini buka shaum perdana untuk menu berbuka saya bikin makanan yang istimewa (versi saya yaa ibu2 amatir) yaitu ikan tongkol bumbu merah. Makanan ini istimewa karena bumbunya dibikin dengan cinta #tsahh engga ding karena nyiapin bumbunya repot harus diulek atau diblender bukan cemplang cemplung. Pertama kali masak gak make icip2 tuh rasanya deg2an, takut suami makannya dikit kan kasian udah shaum seharian.
Menurut suami, ini enakk sampe doi nambah nasi jadi dua piring, tampilannya menggoda iman kaya pedes padahal gak kok, seger banget dimakan pas buka shaum.
Bumbu dan cara bikin saya tulis disini biar nanti kalo pengen bikin bisa langsung.
Bumbunya :
1/2 kg ikan tongkol basah, cuci bersih kucurin lemon diemin 15 menit trus cuci bersih
20 cabai merah keriting
6 siung bawang merah ukuran sedang
2 siung bawang putih ukuran sedang
2 cm kunyit
3 cm kunyit
1/2 bawang bombay, potong kasar
2 batang serai, geprek
3 lembar daun salam
Merica
Bumbu penyedap
Garam
Gula pasir
Proses pembuatannya
1. Haluskan cabai, bawang merah, bawang putih, kunyit dan sebagian jahe
2. Panaskan air di panci sampai mendidih, masukkan ikan tongkol yang sudah bersih lalu tambahkan sebagian jahe yang sudah digeprek dan bawang bombay, biarkan selama 10 menit. Angkat ikan, jahe dan bawang bombay kemudian buang airnya.
3. Masukkan ikan, jahe dan bombay ke panci lain yang sudah berisi air kurang lebih 1 liter, panaskan sampai mendidih
4. Kemudian tambahkan bumbu yang sudah dihaluskan, serai dan daun salam. Biarkan selama 15 menit lalu tambahkan merica, garam dan gula pasir secukupnya sesuai selera.
Bumbu merah ini cocok buat ikan2 yang lain misal patin, kembung atau nila, perbedaan jenis ikan akan mempengaruhi waktu memasak, ikan kembung dan ikan nila waktu memasaknya lebih singkat karena dagingnya tipis. Resep ini bisa dimodifikasi seseuai selera, kalo mau agak asem bisa ditambah belimbing wuluh yang dipotong-potong trus dimasukin pas ikan mau mateng jadi masih kres kres saat dikunyah, kalao pengen aroma yang lebih kuat coba ditambah daun jeruk dan ditambah cabe rawit utuh buat nambah pedas.
Masakan ini dijamin gak amis karena di awal ikannya sudah dikucuri air lemon, air rebusan pertama dibuang dan tambahan bawang bombay plus jahe di awal. Resep ini sehat banget karena dimasak tanpa minyak sama sekali soo cocok deh buat teman-teman yang sedang diet minyak, sehatnya dapet dan rasanya mantap. Mumpung Ramadhan baru satu hari, bisa nih resepnya dicoba......Selamat mencoba yaa
Setelah dua tahun lebih blog ini tak terjamah, Ramadhan tahun ini akan menjadi titik balik saya bercerita disini.
Terakhir posting disini bulan Januari 2017, saat itu sedang inisiasi Kelas inspirasi mulai dari pembentukan panitia lalu mengurus perijinan, rapat, audiensi dan puncaknya kegiatan ini berlangsung bulan September 2017.
Gak cuma itu aja sih, di tahun 2017 akhirnya saya melepas masa lajang, hanya selang seminggu setelah Kelas Inspirasi saya resmi punya buku nikah. Persiapan dua kegiatan inilah yang menyita hati dan pikiran sampai gak sempet nulis.
Laah nikah 2017 trus kok bablas gak ngeblog sampai 2 tahun? Hhmm jawabannya karena sangat menikmati peran baru jadi emak2.
Naaah setelah semua pekerjaan terkendali dengan baik, saatnya explore kebiasaan lama termasuk nulis di blog dan ada iming2 lain juga, bisa dapet hosting gratis kalo minimal ada 10 tulisan. Maklum dasarnya demen yg mepet2 baiklah kita kejar 5 postingan dalam 3 hari.....the power of kepepettt....
Nah kebutuhan menulis ini kebantu dengan adanya tantangan di Blogger perempuan untuk menulis selama 30 hari dengan tema yang sudah disediakan.
Tema hari pertama ada tiga pilihan yaitu Buka puasa, ngabuburit dan buka bersama. Saya milih tema buka puasa aja deh karena gak ngabuburit dan buka bersama cuma berdua dengan suami.
Ramadan kali ini adalah tahun kedua bareng suami, karena kita long distance marriage (ldm) jadi tahun lalu hanya 10 hari kita bisa bareng-bareng. Ngarep banget Ramadhan tahun ini lebih banyak waktu barengnya daan Alhamdulillah langsung diijabah oleh Allah, sahur pertama dan buka pertama bisa barengan.
Karena ini buka shaum perdana untuk menu berbuka saya bikin makanan yang istimewa (versi saya yaa ibu2 amatir) yaitu ikan tongkol bumbu merah. Makanan ini istimewa karena bumbunya dibikin dengan cinta #tsahh engga ding karena nyiapin bumbunya repot harus diulek atau diblender bukan cemplang cemplung. Pertama kali masak gak make icip2 tuh rasanya deg2an, takut suami makannya dikit kan kasian udah shaum seharian.
Menurut suami, ini enakk sampe doi nambah nasi jadi dua piring, tampilannya menggoda iman kaya pedes padahal gak kok, seger banget dimakan pas buka shaum.
Bumbu dan cara bikin saya tulis disini biar nanti kalo pengen bikin bisa langsung.
Bumbunya :
1/2 kg ikan tongkol basah, cuci bersih kucurin lemon diemin 15 menit trus cuci bersih
20 cabai merah keriting
6 siung bawang merah ukuran sedang
2 siung bawang putih ukuran sedang
2 cm kunyit
3 cm kunyit
1/2 bawang bombay, potong kasar
2 batang serai, geprek
3 lembar daun salam
Merica
Bumbu penyedap
Garam
Gula pasir
Proses pembuatannya
1. Haluskan cabai, bawang merah, bawang putih, kunyit dan sebagian jahe
2. Panaskan air di panci sampai mendidih, masukkan ikan tongkol yang sudah bersih lalu tambahkan sebagian jahe yang sudah digeprek dan bawang bombay, biarkan selama 10 menit. Angkat ikan, jahe dan bawang bombay kemudian buang airnya.
3. Masukkan ikan, jahe dan bombay ke panci lain yang sudah berisi air kurang lebih 1 liter, panaskan sampai mendidih
4. Kemudian tambahkan bumbu yang sudah dihaluskan, serai dan daun salam. Biarkan selama 15 menit lalu tambahkan merica, garam dan gula pasir secukupnya sesuai selera.
Bumbu merah ini cocok buat ikan2 yang lain misal patin, kembung atau nila, perbedaan jenis ikan akan mempengaruhi waktu memasak, ikan kembung dan ikan nila waktu memasaknya lebih singkat karena dagingnya tipis. Resep ini bisa dimodifikasi seseuai selera, kalo mau agak asem bisa ditambah belimbing wuluh yang dipotong-potong trus dimasukin pas ikan mau mateng jadi masih kres kres saat dikunyah, kalao pengen aroma yang lebih kuat coba ditambah daun jeruk dan ditambah cabe rawit utuh buat nambah pedas.
Masakan ini dijamin gak amis karena di awal ikannya sudah dikucuri air lemon, air rebusan pertama dibuang dan tambahan bawang bombay plus jahe di awal. Resep ini sehat banget karena dimasak tanpa minyak sama sekali soo cocok deh buat teman-teman yang sedang diet minyak, sehatnya dapet dan rasanya mantap. Mumpung Ramadhan baru satu hari, bisa nih resepnya dicoba......Selamat mencoba yaa
Langganan:
Komentar (Atom)
















