Minggu, 01 September 2019

Review Buku : Jamu Gendong Solusi Sehat Tanpa Obat



Judul buku : JAMU GENDONG SOLUSI SEHAT TANPA OBAT
Penulis : Sukini
Penyunting : Dwi Agus Erinita
Ilustrator : Dawud Achroni
Penata Letak : Dawud Achroni
Penerbit : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa tahun 2018
No. ISBN : ISBN 978-602-437-525-6

Pernahkah mencicipi jamu gendong? Jamu jenis apa yang pernah dicicipi?  Sejauh ini saya hanya mengenal jamu "Kunyit asam" dan "Beras kencur". Kalau belum pernah merasakan, anda rugi loh. Jamu gendong adalah warisan budaya Indonesia yang berharga dan telah dikonsumsi semenjak ratusan tahun silam. Jamu berasal dari bahasa Jawa Kuno yaitu jampi atau usodo, penyembuhan menggunakan ramuan obat-obatan atau  doa-doa (halaman 8) atau secara sederhana, jamu adalah obat herbal dari Indonesia yang dibuat dari bahan alami berupa berbagai bagian tumbuhan misal : rimpang, daun, batang, bunga dan kulit batang (halaman 2). Jamu tersedia dalam berbagai jenis, yaitu jamu berbentuk cairan yang dibuat segar dan langsung dijajakan kepada konsumen, dikenal dengan istilah jamu gendong dan  ada juga yang berbentuk serbuk, tablet, kaplet dan kapsul yang umumnya dibuat oleh industri.

Jamu gendong  biasanya dikemas dalam wadah botol-botol besar lalu disusun dalam bakul dan bakul ini digendong. Tahun 1980an adalah masa keemasan jamu gendong ini karena sangat mudah menemukannya di berbagai daerah, seiring dengan perkembangan teknologi, penjual jamu gendong mulai mengalami penurunan, bahkan saat ini di daerah tempat tinggal saya hanya terseisa tiga orang saja. Beberapa ada yang sudah memodifikasi cara berjualannya yaitu dengan menggunakan motor agar lebih banyak area yang bisa ditempuh. Banyak filiosofi dalam jamu gendong ini, salah satunya adalah alasan menjual jamu ini digendong selayaknya seorang ibu membawa bayinya dalam gendongan yang bermakna bahwa para penjual jamu gendong membawa dagangan seperti membawa anaknya sendiri. (halaman 4).


Meracik dan meminum jamu dipercaya sudah menjadi budaya pada masa kerajaan Hindu dan Budha, hal ini didasarkan dari ditemukannya relief di Candi Borrobudur, Prabanan, Penataran,

Sukuh dan Tegalwangi yang menggambarkan pembuatan dan pembuatan jamu. Bukti sejarah lainnya adalah dengan ditemukannya prasasti Madhawapura yang  merupakan peninggalan kerajaan Majapahit. Selain itu ada juga bukti tertulis penggunaan jamu di Serat Centhini (1814 M) dan Kawruh Bab Jami-Jampi Jawi (1858 M). Buku Kwaruh lah yang memuat informasi yang paling sistematis tentang jamu (halaman 7)


Pada jaman Majapahit, jamu menjadi minuman kebesaran Raja dan keluarga saat upacara-upacara kerajaan, ada delapan jenis jamu yang biasa diminum, yang melambangkan delapan arah mata angin sekaligus lambang Surya Majapahit. Berikut ini jenis jamu tersebut, yaitu :
1. Kunyit asam
2. Beras kencur
3. Cabe puyang,
4. Pahitan
5. Kunci suruh
6. Kudu laos
7. Uyup-uyup atau gepyokan dan 8. Sinom


Masing-masing jenis jamu ini memiliki filosofi yang luar biasa, misal : Urutan rasa dari kedelapan jamu ini adalah manis-asam, sedikit pedas-hangat, pedas, pahit, tawar hingga manis kembali, hal ini untuk melambangan siklus kehidupan manusia. Contoh filosofi lainnya adalah Kunyit asam memiliki rasa manis asam yang merupakan simbol dari kehidupan yang terasa manis ketika bayi hingga praremaja. lalu lain halnya dengan Cabe puyang yang memiliki rasa pedas-manis, yang melambangkan kehidupan manusia di usia 19-21 tahun yang mulai labil.(halaman 38)

Berbagai bahan yang biasa digunakan membuat jamu digambarkan di buku ini dengan lengkap, meliputi nama, nama latin, gambar, bentuk tanaman, budidaya dan manfaat. Bahan yang ada di buku ini adalah Kunyit, Kedawung, Kayu manis, Jahe, Kapulaga, Temulawak, Adas, Sirih, Cabai Jawa, Brotowali, Asam Jawa, Daun Pepaya, Beras, Garam, Gula kelapa dan Gula batu. Buku ini juga dilengkapi dengan alat-alat yang biasa digunakan yaitu lumpang dan alu, batu pipisam dam gandik, panci, saringan, kain katun, blender, cobek dan ulekan, talenan, pisau sera sendok sayur. Semua alat yang digunakan dicantumkan gambar dan fungsinya.


Bagian terakhir dari buku ini adalah berjudul  Macam-macam Jamu gendong dan manfaatnya yang di dalamnya membahas alat-bahan dan cara pembuatan jenis-jenis jamu yang delapan jenis di atas.Setelah tuntas membaca buku ini, pembaca langsung bisa praktek membuatnya di rumah karena bahan dan alat-alat yang digunakan mudah ditemui di sekitar kita.


Menurut saya, buku ini sangat lengkap dan disajikan dalam bahasa yang mudah dipahami sangat sesuai dengan target pembacanya yaitu Anak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP). Setelah membaca buku ini, saya mendapatkan gambaran utuh tentang jamu gendong mulai dari sejarahnya, filosofisnya, jenis-jenis jamu gendong, alat, bahan dan cara membuatnya. Sebuah buku yang layak dibaca oleh masyarakat luas mengingat jamu ini adalah warisan tradisi asli Indonesia yang sudah sepatutnya kita lestarikan. Di dalam pengobatan mandiri (swamedikasi) untuk mengobati gejala penyakit ringan atau untuk meningkatkan stamina, jamu patut dicoba mengingat bahan-bahan yang digunakan adalah bahan alami yang ada di sekitar kita. Namun hal lain yang harus diingat bahwa ketika keluhan tidak berkurang sebaiknya segera berkonsultasi kepada tenaga medis terdekat.  Buku ini tersedia dalam bentuk digital, bisa diunduh secara gratis melalui link ini http://rumahbelajar.id/JamuGendungSolusiSehatTanpaObat. Selamat mencoba !












Tidak ada komentar:

Posting Komentar