Minggu, 08 September 2019

Menjadi Guru yang Siap Menghadapi Revolusi 4.0

Diambil dari www.liputan6.com



Adakah teman-teman yang membaca blog ini berprofesi sebagai pendidik? Jika ada, sudah siapkah menghadapi revolusi Industri 4.0 yang sudah di depan mata. Jika belum siap, teman-teman wajib ikutan pelatihan yang satu ini nih,  namanya Virtual Coordinator Indonesia (VCI) yang diadakan hanya dalam satu bulan dengan berbagai tugas yang menantang. Tenang aja ya jangan mundur sebelum berjuang, pelatihan ini akan mempertemukan para pendidik dari beberapa kota dalam satu grup. Jadi selain dapat ilmu, bonusnya bisa bersilaturahmi dengan tenaga pendidik yang berasal dari kota lain.


Saya sendiri karena tinggal di Kabupaten Cianjur, tergabung di Grup 6 Jabar yang terdiri dari tenaga pendidik dari Kabupaten Cianjur, Kabupaten Bandung Barat dan Cimahi. Dari Kelompok 6 ini kemudian dibagi menjadi 5 kelompok kecil untuk mempermudah penugasan. Setiap kelompok kecil terdiri dari 38 orang peserta. Pelatihan ini dilakukan secara online jadi banyak diantara kami yang belum pernah bertatap muka sama sekali. Bekerja sama dengan orang yang belum dikenal menjadi tantangan tersendiri. 

Tulisan ini adalah salah satu tugas yang harus saya tuntaskan dalam pelatihan ini, yaitu review dua buku yang diambil dari website www.rumahbelajar.id. Sebuah review yang berbeda karena bukan menampilkan dalam bentuk tulisan tetapi menggunakan aplikasi yang merubah suara menjadi tulisan (Voice to text) dan aplikasi yang merubah tulisan menjadi suara (Text to voice). Dua aplikasi ini juga merupakan materi yang disampaikan di pelatihan ini, sebagai salah satu kemampuan yang harus dimiliki pendidik menghadapi revolusi 4.0. Selain itu review bukunya direkam dan diunggah ke akun Youtube milik saya.


1. Review Buku Jamu Gendong Solusi Sehat Tanpa Obat


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.  Pada kesempatan ini saya akan membuat review buku yang berjudul "Jamu Gendong Solusi Sehat Tanpa Obat yang diambil dari website www.rumahbelajar.id. Buku ini ditulis oleh Sukini, disunting oleh Dwi Agus Ernita, Illustrator oleh Dawud Achroni, penata letak oleh Dawud Achroni,  diterbitkan tahun 2018 oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.  Buku ini ditujukan untuk siswa SMK berisi tentang sejarah jamu gendong filosofi jamu gendong berbagai macam jenis jamu gendong bahan dan alat yang bisa digunakan untuk membuat jamu jamu gendong dan bagaimana proses pembuatannya. Sebuah buku yang sangat lengkap  yang setelah membacanya saya yakin semua orang mampu membuatnya. 

Dari segi sejarah,  jamu gendong adalah warisan budaya Indonesia semenjak Kerajaan Majapahit. Dahulu kala jamu-jamu ini hanya disajikan untuk keluarga Kerajaan saat acara-acara khusus tetapi saat ini sudah jamak digunakan oleh banyak orang.  Di buku ini dibahas bahwa jamu itu yang sering digunakan ada 8 jenis yaitu kunyit asam, beras kencur, cabe puyang, pahitan, kunci suruh, kudu Laos, uyup-uyup atau gepyokan dan Sinom. 

Masing-masing jenis jamu ini memiliki filosofi yang sangat luar biasa, urutan dari yang pertama sampai yang terakhir itu adalah manis asam sedikit pedas, sangat pedas, pahit-tawar hingga manis kembali.  Hal ini melambangkan siklus kehidupan manusia karena tentunya di dalam kehidupan manusia itu beragam cerita mulai dari cerita bahagia cerita duka cerita bahagia lagi duka lagi dan ditutup dengan bahagia. 

salah satu filosofi yang lainnya adalah kunyit asam kunyit asam ini adalah Simbol kehidupan pada saat bayi hingga pra remaja memiliki rasa yang manis dan asam lalu yang kedua Cabe puyang  yang ini rasanya adalah pedas manis melambangkan kehidupan manusia di usia 19 sampai dengan 21 tahun yang mulai labil. Proses pembuatan jamu gendong ini sangat mudah menggunakan bahan-bahan yang ada disekitar kita dari herbal yang bisa kita tanam atau beli di pasar tradisional, alat-alatnya pun sangat mudah bisa menggunakan ulekan ataupun blender yang tentunya semua rumah tangga memilikinya. Buku ini sangat bermanfaat untuk dibaca oleh siapapun disajikan dalam bahasa yang sangat ringan sehingga sangat mudah dipahami Sekian dari saya, terima kasih

Untuk video review bisa dilihat di link berikut ini sedangkan untuk review buku secara keseluruhan bisa membuka link berikut ini  Review Buku Jamu Gendong Solusi Sehat Tanpa Obat

2. Review Buku Berguru Kepada Anak Laut Suku Bajo


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Pada kesempatan ini,  saya akan mereview sebuah buku yang diambil dari website www.rumah belajar.id sebuah website yang digagas oleh pemerintah melalui Kementerian Pendidikan untuk membantu meningkatkan kemampuan literasi masyarakat dalam menyongsong era Revolusi 4.0. Buku ini berjudul "Berguru kepada Anak Laut Suku Bajo yang ditulis oleh Mustika Desi Harjani, disunting oleh Dwi Agus Ernita, ilustrator dibuat oleh M  Dzikri Asy-syahid,  Indra Meza Permana dan Wawan Taro. Diterbitkan tahun 2018 oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.  Jumlah halamannya adalah 64 halaman. Buku ini ditujukan untuk anak tingkat SD kelas 1 2 dan 3,  sesuai dengan target pembaca nya buku ini disajikan dengan ilustrasi yang sangat baik dan lebih mengedepankan gambar dibandingkan dengan tulisan. 

Narasi yang disajikan di buku ini dituliskan dalam bahasa yang sangat singkat padat dan jelas sesuai dengan target pembacanya, buku ini juga dilengkapi dengan glosarium yang akan menjelaskan istilah-istilah asing yang ada di buku ini. Sebuah buku yang patut dibaca, buku ini juga bisa dijadikan alat bantu pada saat orang tua ataupun guru mendongeng kepada anak sebagai proses belajar literasi semenjak dini. 

Buku ini menceritakan persahabatan antara Kaloko yaitu seorang anak yang berasal dari Pulau Jawa yang sedang berwisata ke Labuan Bajo. Persahabatan Kaloko dengan anak asli suku Labuan Bajo yang bernama Jirin.  Keduanya bertemu di suatu pagi yang cerah, saat itu Jirin mengajak Kaloko untuk berenang karena menurutnya air adalah teman,  Tttapi Kaloko yang memang belum mampu berenang merasa takut. Ayahnya yang saat itu sedang berada disana berusaha meyakinkan Kaloko bahwa berenang adalah sebuah kegiatan yang sangat menyenangkan dan harus dikuasai oleh anak Indonesia karena negara kita adalah negara perairan yang dua pertiga wilayahnya adalah kepulauan.

Setelah diskusi dengan ayahnya dan sejenak berpikir akhirnya Kaloko bersedia mengikuti saran Ayah untuk belajar berenang dan berteman dengan air seperti Jirin. Awalnya dia takut tetapi berusaha memberanikan diri terjun ke air dan hal ini tentu saja membuat Jirin senang karena kawan barunya mau belajar berenang, saat itu Kaloko masih menggunakan pelampung  di lengannya karena memang tak bisa mengambang di air, alat  ini akan membantu badan Kaloko mengapung.

Buku yang sangat menarik loh, teman-teman bisa membaca review lengkapnya disini atau melihat rekaman videonya melalui Review Buku Berguru Kepada Anak Laut Suku Bajo dan melalui link ini.

Sekian penugasan pada kesempatan kali ini, sampai jumpa di kesempatan penugasan lainnya. Salam!!!


Minggu, 01 September 2019

Review Buku : Jamu Gendong Solusi Sehat Tanpa Obat



Judul buku : JAMU GENDONG SOLUSI SEHAT TANPA OBAT
Penulis : Sukini
Penyunting : Dwi Agus Erinita
Ilustrator : Dawud Achroni
Penata Letak : Dawud Achroni
Penerbit : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa tahun 2018
No. ISBN : ISBN 978-602-437-525-6

Pernahkah mencicipi jamu gendong? Jamu jenis apa yang pernah dicicipi?  Sejauh ini saya hanya mengenal jamu "Kunyit asam" dan "Beras kencur". Kalau belum pernah merasakan, anda rugi loh. Jamu gendong adalah warisan budaya Indonesia yang berharga dan telah dikonsumsi semenjak ratusan tahun silam. Jamu berasal dari bahasa Jawa Kuno yaitu jampi atau usodo, penyembuhan menggunakan ramuan obat-obatan atau  doa-doa (halaman 8) atau secara sederhana, jamu adalah obat herbal dari Indonesia yang dibuat dari bahan alami berupa berbagai bagian tumbuhan misal : rimpang, daun, batang, bunga dan kulit batang (halaman 2). Jamu tersedia dalam berbagai jenis, yaitu jamu berbentuk cairan yang dibuat segar dan langsung dijajakan kepada konsumen, dikenal dengan istilah jamu gendong dan  ada juga yang berbentuk serbuk, tablet, kaplet dan kapsul yang umumnya dibuat oleh industri.

Jamu gendong  biasanya dikemas dalam wadah botol-botol besar lalu disusun dalam bakul dan bakul ini digendong. Tahun 1980an adalah masa keemasan jamu gendong ini karena sangat mudah menemukannya di berbagai daerah, seiring dengan perkembangan teknologi, penjual jamu gendong mulai mengalami penurunan, bahkan saat ini di daerah tempat tinggal saya hanya terseisa tiga orang saja. Beberapa ada yang sudah memodifikasi cara berjualannya yaitu dengan menggunakan motor agar lebih banyak area yang bisa ditempuh. Banyak filiosofi dalam jamu gendong ini, salah satunya adalah alasan menjual jamu ini digendong selayaknya seorang ibu membawa bayinya dalam gendongan yang bermakna bahwa para penjual jamu gendong membawa dagangan seperti membawa anaknya sendiri. (halaman 4).


Meracik dan meminum jamu dipercaya sudah menjadi budaya pada masa kerajaan Hindu dan Budha, hal ini didasarkan dari ditemukannya relief di Candi Borrobudur, Prabanan, Penataran,

Sukuh dan Tegalwangi yang menggambarkan pembuatan dan pembuatan jamu. Bukti sejarah lainnya adalah dengan ditemukannya prasasti Madhawapura yang  merupakan peninggalan kerajaan Majapahit. Selain itu ada juga bukti tertulis penggunaan jamu di Serat Centhini (1814 M) dan Kawruh Bab Jami-Jampi Jawi (1858 M). Buku Kwaruh lah yang memuat informasi yang paling sistematis tentang jamu (halaman 7)


Pada jaman Majapahit, jamu menjadi minuman kebesaran Raja dan keluarga saat upacara-upacara kerajaan, ada delapan jenis jamu yang biasa diminum, yang melambangkan delapan arah mata angin sekaligus lambang Surya Majapahit. Berikut ini jenis jamu tersebut, yaitu :
1. Kunyit asam
2. Beras kencur
3. Cabe puyang,
4. Pahitan
5. Kunci suruh
6. Kudu laos
7. Uyup-uyup atau gepyokan dan 8. Sinom


Masing-masing jenis jamu ini memiliki filosofi yang luar biasa, misal : Urutan rasa dari kedelapan jamu ini adalah manis-asam, sedikit pedas-hangat, pedas, pahit, tawar hingga manis kembali, hal ini untuk melambangan siklus kehidupan manusia. Contoh filosofi lainnya adalah Kunyit asam memiliki rasa manis asam yang merupakan simbol dari kehidupan yang terasa manis ketika bayi hingga praremaja. lalu lain halnya dengan Cabe puyang yang memiliki rasa pedas-manis, yang melambangkan kehidupan manusia di usia 19-21 tahun yang mulai labil.(halaman 38)

Berbagai bahan yang biasa digunakan membuat jamu digambarkan di buku ini dengan lengkap, meliputi nama, nama latin, gambar, bentuk tanaman, budidaya dan manfaat. Bahan yang ada di buku ini adalah Kunyit, Kedawung, Kayu manis, Jahe, Kapulaga, Temulawak, Adas, Sirih, Cabai Jawa, Brotowali, Asam Jawa, Daun Pepaya, Beras, Garam, Gula kelapa dan Gula batu. Buku ini juga dilengkapi dengan alat-alat yang biasa digunakan yaitu lumpang dan alu, batu pipisam dam gandik, panci, saringan, kain katun, blender, cobek dan ulekan, talenan, pisau sera sendok sayur. Semua alat yang digunakan dicantumkan gambar dan fungsinya.


Bagian terakhir dari buku ini adalah berjudul  Macam-macam Jamu gendong dan manfaatnya yang di dalamnya membahas alat-bahan dan cara pembuatan jenis-jenis jamu yang delapan jenis di atas.Setelah tuntas membaca buku ini, pembaca langsung bisa praktek membuatnya di rumah karena bahan dan alat-alat yang digunakan mudah ditemui di sekitar kita.


Menurut saya, buku ini sangat lengkap dan disajikan dalam bahasa yang mudah dipahami sangat sesuai dengan target pembacanya yaitu Anak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP). Setelah membaca buku ini, saya mendapatkan gambaran utuh tentang jamu gendong mulai dari sejarahnya, filosofisnya, jenis-jenis jamu gendong, alat, bahan dan cara membuatnya. Sebuah buku yang layak dibaca oleh masyarakat luas mengingat jamu ini adalah warisan tradisi asli Indonesia yang sudah sepatutnya kita lestarikan. Di dalam pengobatan mandiri (swamedikasi) untuk mengobati gejala penyakit ringan atau untuk meningkatkan stamina, jamu patut dicoba mengingat bahan-bahan yang digunakan adalah bahan alami yang ada di sekitar kita. Namun hal lain yang harus diingat bahwa ketika keluhan tidak berkurang sebaiknya segera berkonsultasi kepada tenaga medis terdekat.  Buku ini tersedia dalam bentuk digital, bisa diunduh secara gratis melalui link ini http://rumahbelajar.id/JamuGendungSolusiSehatTanpaObat. Selamat mencoba !